Menjadi Pendidik Inspiratif


Pergeseran paradigma pendidikan dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada peserta didik (student centered) telah membawa sejumlah dampak hampir di seluruh aktivitas pendidikan. Berdasar pada paradigma ini, guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, guru bukan lagi satu-satunya aktor dalam pembelajaran. Peran guru adalah sebagai fasilitator, motivator, dan mediator bagi peserta didik. Sehingga guru tidak lagi mendominasi jalannya pembelajaran.
Pembelajaran student centered memprioritaskan pada upaya menciptakan iklim pembelajaran yang membuat siswa mampu mengkonstruk pengetahuan sendiri melalui pengalaman belajar yang kontekstual. Dengan demikian, sumber pengetahuan dalam model pembelajaran ini bukan lagi dari guru, tetapi lingkungan sekitar dan dunia nyata.
Di satu sisi, pergeseran paradigma ini memang membawa implikasi yang positif yaitu peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan faktual. Selain itu, pengetahuan yang diperoleh peserta didik tidak lagi konseptual (paparan teori) saja tetapi lebih kontekstual dan lebih real. Sehingga lulusan pendidikan diharapkan menjadi semakin sensitif dan responsif terhadap isu-isu sosial-kultural di sekitarnya.
Implikasi lain dari pendidikan berperspektif student centered adalah menyempitnya atau bahkan bergesernya jarak antara pendidik dan peserta didik. Hal ini karena adanya pergeseran pola relasi antara pendidik dan peserta didik. Jika dalam paradigma pendidikan teacher centered pendidik sebagai orangtua sekaligus sumber pengetahuan (resourch of knowledge) bagi peserta didik, maka dalam paradigma pendidikan student centered pendidik berperan sebagai pendamping, sahabat, dan fasilitator bagi peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuannya.
Jika dicermati, di samping implikasi positif di atas terdapat implikasi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari penyelenggara pendidikan. Yaitu berkurangnya rasa hormat atau tawadlu' (respect) peserta didik kepada pendidik. Hal ini disebabkan berubahnya pola relasi sebagaimana disebutkan di atas. Memang relasi antara keduanya semakin dekat dan akrab, namun ternyata hal ini justru menghilangkan rasa hormat yang seharusnya dimiliki peserta didik. Ironi ini semakin didukung dengan terjadinya degradasi karakter di kalangan pendidik sendiri, yaitu semakin memudarnya keteladanan yang merupakan muara dari hilangnya "ruh ad-da'wah" dan orientasi pada pendapatan sehingga pendidik lebih disibukkan dengan urusan formal-administratif dari pada tugas utamanya mendidik. Imbas dari masalah ini adalah pendidikan karakter tidak dapat berjalan dengan efektif sebagaimana diharapkan.
Menyikapi problematika tersebut di atas diperlukan adanya upaya peningkatan profesionalisme pendidik secara komprehensif yang tidak hanya concern pada peningkatan kesejahteraan pendidik. Namun lebih daripada itu, upaya peningkatan profesionalisme pendidik harus mampu mengahsilkan pendidik yang inspiratif, yaitu pendidik yang semua tindak-tanduknya mampu menginspirasi peserta didiknya. Pendidik yang selalu memberikan teladan di setiap dimensi hidupnya. Pendidik yang tidak hanya matang secara profesional tapi juga secara spiritual

Komentar